Kesederhanaan Sebagai Jalan Pulang
Di tengah dunia yang semakin cepat, bising, dan penuh tuntutan, kesederhanaan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang tertinggal. Ia dipandang kuno, lambat, bahkan tidak relevan. Padahal, justru dalam kesederhanaan, manusia menemukan ruang untuk bernapas, untuk kembali mengenali dirinya, dan untuk pulang ke hal-hal yang paling mendasar: rasa, makna, dan kehadiran.
Kesederhanaan bukan berarti kekurangan. Ia bukan tentang menolak kemajuan atau menghindari kenyamanan. Kesederhanaan adalah pilihan sadar untuk tidak berlebihan, untuk tidak larut dalam ambisi yang tak berujung, dan untuk tidak kehilangan arah dalam pencarian yang tak pernah selesai. Ia adalah bentuk kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman, dari luka, dari pengamatan yang jujur terhadap hidup.
Banyak orang mengira bahwa kebahagiaan terletak pada pencapaian besar, pada benda-benda mahal, atau pada pengakuan sosial. Tapi semakin jauh seseorang melangkah, semakin ia menyadari bahwa yang ia rindukan bukanlah gemerlap, melainkan ketenangan. Bukan keramaian, melainkan keintiman. Bukan kehebatan, melainkan keaslian. Dan semua itu hanya bisa ditemukan dalam kesederhanaan.
Kesederhanaan adalah jalan pulang karena ia membawa kita kembali ke asal. Ia mengingatkan bahwa makan bersama di lantai dapur bisa lebih bermakna daripada jamuan mewah. Bahwa percakapan pelan di bawah pohon bisa lebih menyentuh daripada seminar yang penuh jargon. Bahwa menatap langit sore bisa lebih menyembuhkan daripada hiburan yang mahal. Kesederhanaan mengembalikan kita pada rasa cukup, pada rasa syukur, dan pada rasa hadir.
Dalam tradisi-tradisi lama, kesederhanaan selalu dihormati. Para petani yang hidup selaras dengan musim, para ibu yang memasak dengan tangan dan hati, para tetua yang berbicara dengan sedikit kata tapi penuh makna—mereka semua adalah penjaga kesederhanaan. Mereka tidak mengejar sorotan, tapi justru menjadi cahaya bagi sekelilingnya. Mereka tidak sibuk membuktikan, tapi hadir dengan keutuhan.
Kesederhanaan juga memberi ruang bagi refleksi. Ketika hidup tidak dipenuhi oleh hal-hal yang berlebihan, kita punya waktu untuk mendengar suara batin. Kita bisa bertanya: apa yang benar-benar penting? apa yang ingin saya jaga? apa yang bisa saya lepaskan? Dalam ruang yang sederhana, pertanyaan-pertanyaan itu tidak menakutkan, tapi menenangkan. Karena kita tahu, kita tidak harus menjadi segalanya untuk merasa cukup.
Di kampung-kampung, kesederhanaan masih hidup. Ia ada dalam sapaan pagi, dalam aroma kayu bakar, dalam tawa anak-anak yang bermain tanpa gawai. Ia tidak berteriak, tapi hadir. Ia tidak memaksa, tapi mengundang. Dan bagi mereka yang lelah dengan dunia yang terlalu cepat, kesederhanaan adalah tempat pulang yang paling jujur.
Menjalani hidup dengan sederhana bukan berarti mundur. Justru itu adalah langkah maju menuju kedewasaan. Karena hanya orang yang kuat yang bisa memilih untuk tidak berlebihan. Hanya orang yang bijak yang bisa berkata, “Ini sudah cukup.” Dan hanya orang yang mengenal dirinya yang bisa hidup tanpa topeng, tanpa hiasan, tanpa kebisingan.
Kesederhanaan adalah jalan pulang. Pulang ke diri sendiri, pulang ke makna, pulang ke hidup yang tidak perlu selalu besar, tapi selalu utuh. Dalam kesederhanaan, kita tidak kehilangan apa-apa. Justru kita menemukan segalanya.




Komentar
Posting Komentar