Tenanglah Hati
Masa depan adalah ruang yang belum kita jamah, sebuah misteri yang hanya Allah ketahui. Ia bukan ancaman, melainkan ladang harapan yang menunggu untuk ditanami dengan iman dan amal. Ketakutan terhadap masa depan sering kali lahir bukan dari kenyataan, melainkan dari kelemahan pandangan kita terhadap takdir. Padahal, Allah telah menjamin bahwa siapa pun yang bertawakal kepada-Nya, maka Dia akan mencukupkan segala kebutuhannya. Dalam surah At-Talaq ayat 3, Allah berfirman, “Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan keperluannya.”
Kita hidup dalam zaman yang penuh ketidakpastian. Perubahan datang begitu cepat, dan kadang kita merasa tertinggal, tersesat, atau bahkan terbuang. Namun, Islam mengajarkan bahwa masa depan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ia adalah bagian dari takdir yang telah ditulis oleh Allah di Lauhul Mahfuz. Takdir itu bukan untuk ditakuti, tetapi untuk diimani. Dalam rukun iman, percaya kepada takdir adalah fondasi yang menguatkan langkah kita. Ketika kita percaya bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah dengan hikmah yang sempurna, maka hati kita akan tenang, bahkan di tengah badai.
Rasa takut terhadap masa depan sering kali muncul karena kita merasa tidak cukup kuat, tidak cukup pintar, atau tidak cukup layak. Kita membandingkan diri dengan orang lain, merasa tertinggal, dan akhirnya tenggelam dalam kecemasan. Padahal, Allah tidak menilai kita dari hasil, melainkan dari usaha dan niat. Dalam surah Al-Imran ayat 139, Allah berfirman, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu beriman.” Ayat ini bukan sekadar penghiburan, tetapi juga perintah untuk bangkit, untuk percaya bahwa kita memiliki nilai di mata Allah.
Kesedihan pun bukan hal yang harus disangkal, tetapi juga bukan tempat untuk menetap. Rasulullah ﷺ sendiri pernah bersedih, terutama ketika kehilangan orang-orang yang beliau cintai. Tahun di mana Khadijah dan Abu Thalib wafat disebut sebagai ‘Aamul Huzn’—tahun kesedihan. Namun, beliau tidak membiarkan kesedihan menghalangi langkah dakwah dan perjuangannya. Dalam Islam, kesedihan adalah bagian dari fitrah manusia, namun ia harus diiringi dengan kesabaran dan doa. Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 153, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” Maka bersedihlah secukupnya, lalu bangkitlah dengan harapan dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Ada kalanya kita merasa sendirian. Dunia terasa sunyi, dan doa-doa kita seolah tak berjawab. Namun, dalam sunyi itulah Allah paling dekat. Dalam surah Qaf ayat 16, Allah berfirman, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” Ayat ini adalah pelukan bagi jiwa yang merasa sendiri. Allah tidak pernah jauh. Bahkan ketika kita merasa lemah, Allah tetap mendengar. Bahkan ketika kita tidak mampu berkata-kata, Allah tetap memahami.
Islam tidak mengajarkan kita untuk pasrah tanpa usaha. Justru Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” Tawakal bukan berarti tidak merencanakan. Justru kita harus bekerja, belajar, dan mempersiapkan. Tapi setelah itu, hasilnya kita serahkan kepada Allah. Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam: ikhtiar dan tawakal berjalan beriringan.
Ketika hati mulai gelisah, tenangkanlah dengan doa dan zikir. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra’d: 28). Doa-doa yang telah Rasulullah SAW ajarkan juga bisa menjadi penawar rasa cemas. Salah satunya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan gelisah, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari lilitan utang dan tekanan orang lain.” Zikir dan doa mengingatkan kita bahwa kita tidak sendiri. Allah selalu bersama hamba-Nya yang beriman.
Masa depan bukanlah ruang kosong yang menakutkan, melainkan tempat di mana rahmat Allah akan terus turun bagi mereka yang beriman dan berusaha. Janganlah takut akan rezeki, karena Allah adalah Ar-Razzaq, Sang Maha Pemberi Rezeki. Janganlah takut akan kesendirian, karena Allah adalah Al-Wali, Sang Pelindung dan Penolong. Janganlah takut akan kegagalan, karena dalam setiap takdir yang ditetapkan-Nya, selalu ada hikmah yang mendewasakan jiwa.
Jika hari ini terasa berat, maka bersabarlah. Jika esok belum pasti, maka bertawakallah. Sebab, dalam setiap detik yang kita lalui, ada kasih sayang Allah yang menyelimuti. Dan dalam setiap langkah yang kita ambil, ada malaikat yang mencatat kebaikan. Maka janganlah takut, dan janganlah bersedih. Karena bersama Allah, masa depan adalah janji yang penuh cahaya.
Tenanglah hati. Masa depan bukan untuk ditakuti, tetapi untuk disambut dengan iman, harapan, dan cinta kepada-Nya.





Komentar
Posting Komentar