Reza Chandika, Rendha Rais, Laleilmanino - Sampai Kapan
Lagu “Sampai Kapan” yang diciptakan oleh Reza Chandika, Rendha Rais, dan Laleilmanino merupakan sebuah karya yang lahir dari keresahan personal yang dirasakan oleh banyak orang, terutama mereka yang berada di fase hidup di mana cinta belum juga datang, meski kebahagiaan lain sudah mengisi hari-hari. Lagu ini tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga ruang refleksi bagi pendengarnya untuk memahami bahwa kesendirian bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan, melainkan bisa dirayakan dengan jujur dan lembut.
Lirik lagu ini menggambarkan kehidupan sehari-hari yang tampak menyenangkan. Tokoh dalam lagu ini memiliki teman-teman yang selalu ada, yang membuat hari-harinya penuh tawa dan cerita. Ia pulang kerja, bercanda bersama, dan merasa hangat dalam kebersamaan. Namun, ketika malam tiba dan semua kembali ke rumah masing-masing, ia kembali sendiri. Di sinilah kesepian muncul, bukan karena tidak punya teman, tetapi karena belum ada seseorang yang bisa menjadi tempat pulang secara emosional. Lagu ini menyuarakan kerinduan akan cinta yang belum hadir, dan pertanyaan yang terus bergema: sampai kapan harus begini.
Pertanyaan “Sampai kapan hidupku harus begini?” menjadi inti dari lagu ini. Ia bukan sekadar keluhan, tetapi juga harapan yang belum terpenuhi. Ada rasa sabar yang terus dipelihara, ada penerimaan terhadap takdir yang belum berubah, dan ada keinginan untuk tetap kuat meski hati kadang terasa kosong. Lagu ini tidak menawarkan jawaban pasti, tetapi justru mengajak pendengarnya untuk duduk bersama rasa itu, merasakannya, dan membiarkannya menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Makna yang terkandung dalam lagu ini sangat relevan dengan kehidupan banyak orang. Di era di mana kebahagiaan sering kali ditampilkan secara visual dan sosial, lagu ini mengingatkan bahwa ada sisi lain dari kebahagiaan yang tidak selalu terlihat. Kesendirian bukan berarti gagal, dan menunggu bukan berarti lemah. Justru dalam kesendirian dan penantian, seseorang bisa menemukan kekuatan untuk tetap bersyukur, tetap tertawa bersama teman-teman, dan tetap percaya bahwa cinta akan datang di waktu yang tepat.
Lagu ini juga menyentuh tema tentang penerimaan. Dalam salah satu bagian liriknya, tokoh dalam lagu berkata bahwa jika memang takdirnya harus menunggu, maka ia akan menunggu. Ini adalah bentuk penerimaan yang tidak pasif, tetapi aktif. Ia tidak menyerah, tetapi memilih untuk tetap membuka hati, tetap menjalani hari dengan penuh harapan, dan tetap menghargai kebersamaan yang sudah ada. Lagu ini mengajarkan bahwa cinta bukan satu-satunya sumber kebahagiaan, dan bahwa teman-teman, tawa, dan rutinitas harian juga bisa menjadi sumber kekuatan.
Kolaborasi antara Reza Chandika, Rendha Rais, dan Laleilmanino juga menjadi bukti bahwa karya yang jujur dan personal bisa menyentuh banyak hati. Meski bukan musisi profesional, Reza dan Rendha berhasil menyampaikan emosi yang tulus melalui lagu ini, dibantu oleh sentuhan musikal yang khas dari Laleilmanino. Lagu ini menjadi ruang di mana keresahan pribadi bisa menjadi resonansi kolektif, dan di mana kesendirian bisa menjadi lagu yang dinyanyikan bersama.
“Sampai Kapan” bukan hanya lagu tentang cinta yang belum datang, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa tetap hidup dengan penuh makna meski belum memiliki pasangan. Ia adalah lagu tentang harapan, tentang kesabaran, dan tentang penerimaan. Ia mengajak pendengarnya untuk tidak terburu-buru, untuk menikmati proses, dan untuk percaya bahwa setiap orang punya waktunya sendiri. Lagu ini menjadi pengingat bahwa dalam kesendirian pun, seseorang bisa tetap utuh, tetap bahagia, dan tetap bersyukur.




Komentar
Posting Komentar