.Feast - Nina
Lagu “Nina” dari .Feast merupakan sebuah karya yang sangat personal dan menyentuh, ditulis oleh Adnan Satyanugraha, gitaris dari band tersebut, sebagai persembahan untuk putrinya. Berbeda dari karakteristik .Feast yang biasanya dikenal dengan kritik sosial dan politik yang tajam, “Nina” hadir sebagai balada lembut yang penuh kasih sayang, refleksi, dan pengharapan. Lagu ini menjadi semacam surat terbuka dari seorang ayah kepada anaknya, yang tidak hanya merekam perasaan cinta dan rindu, tetapi juga menyimpan janji, doa, dan pengakuan atas keterbatasan manusia dalam menjalani peran sebagai orang tua.
Secara naratif, lagu ini menggambarkan dinamika hubungan antara ayah dan anak yang terpisah oleh jarak fisik karena tuntutan pekerjaan. Sang ayah harus meninggalkan rumah demi mencari nafkah, namun tetap berusaha hadir secara emosional dan spiritual dalam kehidupan anaknya. Dalam liriknya, terdapat penggambaran tentang bagaimana sang ayah menyaksikan pertumbuhan anaknya dari kejauhan, melalui layar ponsel, dan bagaimana ia mencoba menebus keterbatasan waktu dengan membawa oleh-oleh dan bermain bersama saat pulang. Ini adalah potret yang sangat relevan bagi banyak orang tua di era modern, di mana mobilitas dan pekerjaan seringkali menuntut pengorbanan waktu bersama keluarga.
Namun, “Nina” tidak berhenti pada nostalgia atau rasa bersalah. Lagu ini juga mengandung harapan yang kuat. Sang ayah menyampaikan keinginannya agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik darinya, menemukan panggilan hidupnya sendiri, dan menjalani kehidupan dengan keberanian dan kebaikan. Ada pengakuan bahwa sang ayah bukanlah sosok yang sempurna, namun ia berjanji untuk selalu melindungi dan mendampingi anaknya sebisa mungkin. Lirik seperti “Aku tahu kamu hebat namun selamanya diriku pasti berkutat / ‘Tuk selalu jauhkanmu dari dunia yang jahat / Ini sumpahku padamu ‘tuk biarkanmu” mencerminkan tekad seorang ayah untuk menjadi pelindung, meskipun ia sadar bahwa pada akhirnya sang anak harus menjalani hidupnya sendiri.
Makna mendalam dari lagu ini terletak pada ketulusan dan kerentanannya. Ia tidak mencoba menjadi heroik secara berlebihan, melainkan jujur dalam mengakui bahwa menjadi orang tua adalah perjalanan yang penuh tantangan, kompromi, dan pembelajaran. Lagu ini juga menjadi pengingat bahwa cinta orang tua tidak selalu hadir dalam bentuk kehadiran fisik, tetapi bisa hadir dalam bentuk perhatian, doa, dan usaha yang terus-menerus untuk menjadi lebih baik. Dalam konteks yang lebih luas, “Nina” juga bisa dibaca sebagai refleksi tentang bagaimana generasi orang tua masa kini mencoba menyeimbangkan antara tanggung jawab ekonomi dan keintiman emosional dalam keluarga.
Secara musikal, “Nina” dibalut dengan aransemen yang sederhana namun hangat, memperkuat nuansa intim dan personal dari liriknya. Pemilihan nada dan tempo yang tenang membuat pendengar dapat meresapi setiap kata dengan lebih dalam. Lagu ini tidak hanya menyentuh hati karena temanya yang universal, tetapi juga karena kejujuran emosional yang jarang ditemukan dalam lagu-lagu populer saat ini.
“Nina” adalah pengingat bahwa di balik setiap perjuangan orang tua, ada cinta yang tak terucapkan. Ia adalah bentuk lain dari pelukan yang dikirim dari kejauhan, sebuah doa yang dibisikkan dalam diam, dan janji yang terus dipegang meski waktu dan jarak memisahkan. Lagu ini mengajak kita untuk lebih menghargai kehadiran dan pengorbanan orang tua, serta untuk merenungi bagaimana kita, sebagai anak atau sebagai orang tua, bisa saling memahami dan mencintai dalam keterbatasan yang ada.




Komentar
Posting Komentar