Makan Siang Pak RW yang Tak Pernah Selesai



Di kampung Cikadut Girang, makan siang adalah momen sakral yang lebih penting daripada rapat RT. Warga percaya bahwa keputusan besar harus dibuat setelah perut kenyang, bukan sebelum. Tokoh utama dalam kisah ini adalah Pak RW, yang punya kebiasaan unik: tidak pernah makan siang sendirian. Ia selalu mengundang minimal lima warga, meski lauknya cuma tahu goreng dan sambal yang terlalu jujur.

Pak RW punya meja makan panjang, tapi kursinya hanya tiga. Sisanya duduk di bangku kayu, ember terbalik, atau berdiri sambil mengunyah. “Kalau makan sambil berdiri, keputusan lebih cepat,” katanya sambil menyendok nasi.

Suatu hari, Bu Narti, ketua PKK, menyumbang rendang untuk jamuan makan siang. Tapi rendangnya terlalu pedas, dan Pak RW langsung berkeringat seperti habis sidang musyawarah. “Bu Narti, ini rendang atau ujian hidup?” katanya sambil meneguk teh manis tiga kali berturut-turut.

Mas Juki, pemuda kampung yang hobi bikin konten, merekam kejadian itu dan mengunggah dengan judul: “Pak RW Melawan Rendang Pedas.” Video itu ditonton oleh warga kampung sebelah, dan sejak itu, makan siang di rumah Pak RW jadi tontonan harian.

Pak Darto, pensiunan guru yang kini jadi penasihat informal, mulai mencatat menu makan siang setiap hari. “Senin: nasi uduk dan telur rebus. Selasa: nasi putih dan sarden kaleng. Rabu: nasi putih dan pertanyaan eksistensial.” Warga mulai menunggu hari Rabu, karena biasanya lauknya tidak jelas tapi obrolannya dalam.

Suatu siang, terjadi kekacauan. Pak RW memesan nasi padang dari warung Bu Jum, tapi yang datang malah nasi goreng dari warung sebelah. Ia bingung, “Ini nasi padang yang sudah pindah domisili?” Bu Jum menjelaskan, “Kurirnya bingung karena dua warung pakai nama ‘Jum.’ Yang satu Jumiyati, yang satu Juminten.”

Pak RW tetap makan, tapi sambil mengeluh, “Kalau nasi saja bisa salah alamat, bagaimana dengan undangan musyawarah?” Pak Darto menimpali, “Itu tandanya kita harus makan dengan GPS.”

Hari berikutnya, Pak RW mencoba sistem baru: makan siang bertema. Kamis adalah “Makan Siang Demokratis,” di mana warga boleh memilih lauk lewat voting. Hasilnya: 12 suara untuk ayam goreng, 8 suara untuk tempe, dan 1 suara untuk bubur, yang ternyata dari Beni, bocah SD yang belum paham konsep lauk.

Jumat adalah “Makan Siang Misteri.” Lauknya ditutup kain, dan warga harus menebak. Bu Narti menebak “ikan asin,” Pak Darto menebak “kerupuk,” dan Mas Juki menebak “kekecewaan.” Saat kain dibuka, ternyata isinya adalah tahu isi yang sudah kosong.

Pak RW tertawa, “Ini tahu yang sudah melewati masa introspeksi.” Bu Jum menjawab, “Itu tahu yang sudah berdamai dengan nasib.”

Sejak itu, makan siang di rumah Pak RW bukan lagi soal kenyang. Ia jadi acara resmi kampung, dengan jadwal, moderator, dan sesi tanya jawab. Bahkan Pak RW membuat piagam “Warga Teladan Makan Siang,” yang diberikan kepada siapa pun yang tidak pernah absen dan tidak pernah mengeluh soal sambal.

Dan di kampung Cikadut Girang, makan siang menjadi panggung tawa, tempat musyawarah, dan bukti bahwa nasi, sambal, dan sedikit rendang bisa menyatukan warga lebih kuat daripada surat edaran.

Komentar

Postingan Populer