Sambal Dadak Gagal
· Diterbitkan di catatan.ghiskafajari.com
Pagi di Kampung Cipacing
Pak Darsa bangun lebih pagi dari biasanya. Bau daun pisang yang dibakar sudah memenuhi halaman rumahnya. Istrinya, Bu Ijah, sedang menyiapkan nasi liwet untuk arisan RT. Semua tetangga sudah diundang, bahkan Bu RT sendiri sudah memesan dua porsi ekstra.
Pak Darsa, yang biasanya hanya bisa mengupas singkong, tiba-tiba merasa jago. Ia berkata kepada Bu Ijah, "Aku yang bikin sambalnya. Biar lebih pedas, biar orang-orang kaget."
Bu Ijah hanya mengangguk sambil tertawa kecil. Ia sudah hafal kebiasaan suaminya yang suka pamer, tetapi hasilnya sering menjadi bahan cerita.
Di Dapur yang Sempit
Pak Darsa membuka lemari bumbu. Cabai rawit merah ada segenggam, cabai hijau juga tersedia. Bawang merah, bawang putih, terasi, dan gula merah pun lengkap. Namun, ada satu hal penting yang ia lupakan: takaran.
Dalam hati ia berkata, "Yang penting banyak cabainya. Makin banyak, makin mantap."
Tanpa berpikir panjang, ia mengambil semua cabai rawit yang ada di keranjang—tidak dihitung, tidak pula ditimbang. Langsung digiling kasar memakai cobek batu yang sudah usang.
Bumbu yang Terlupakan
Bunyi cobek bergema sampai ke dapur tetangga. Bu Ijah, yang sedang membungkus nasi liwet, hanya menggeleng. "Awas nanti kebanyakan," gumamnya.
Pak Darsa tidak mendengarnya. Ia sibuk menambahkan terasi bakar yang aromanya langsung menyebar ke seluruh rumah. Setelah itu, ia mencicipi sedikit—dan lidahnya langsung terbakar.
"Mantap!" katanya dengan mata berkaca-kaca.
Saat Arisan Dimulai
Pukul sembilan pagi, ibu-ibu sudah duduk melingkar di teras. Nasi liwet hangat dibuka, lalapan segar ditata rapi. Ada karedok, pepes ikan, tahu goreng, dan tempe bacem.
Pak Darsa bangga membawa mangkuk sambal dadaknya. Ia meletakkannya di tengah meja. "Ini sambal spesial buatan saya. Silakan dicoba."
Bu RT, yang paling berani, mengambil sendok kecil. Ia mengambil sedikit, menaruhnya di atas nasi, lalu memasukkannya ke mulut.
Reaksi Bu RT terhadap Sambal
Wajahnya langsung memerah. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Air mata mengalir deras.
Semua orang terkejut. Bu Ijah panik. "Ada apa, Bu RT?"
Bu RT hanya bisa mengangguk-angguk sambil menunjuk ke mangkuk sambal. Setelah minum air putih tiga gelas, ia baru bisa berbicara:
"Ini bukan sambal. Ini senjata."
Kekacauan yang Lucu
Ibu-ibu lain mulai saling berpandangan. Ada yang berani mencoba, ada pula yang langsung mundur. Yang mencoba langsung mencari air, es batu, bahkan ada yang berlari ke kamar mandi.
Pak Darsa masih kebingungan. "Kenapa? Kan enak."
Bu Ijah, yang sudah mencium gelagat buruk, akhirnya mengambil sendok dan mencicipinya sendiri. Lidahnya langsung mati rasa. Ia hanya bisa berkata,
"Darsa, berapa cabai yang kamu masukkan?"
Pak Darsa menghitung dengan jari. "Semua yang ada di keranjang. Sekitar tiga genggam."
Semua orang tertawa. Bahkan Bu RT yang masih memerah wajahnya ikut tertawa sambil mengelap air matanya.
Solusi yang Tidak Terduga
Bu Ijah, yang paling tenang, mengambil sisa nasi liwet. Ia mengambil santan kental yang masih tersisa di dapur, lalu mencampurkan sedikit gula merah dan garam. Sambal yang sangat pedas itu ia encerkan pelan-pelan.
Hasilnya masih pedas, tetapi sudah bisa ditoleransi. Semua orang kembali makan sambil tertawa. Ada yang berkata, "Besok sambalnya dibuat Pak Darsa lagi, biar kita lebih sering tertawa."
Pak Darsa hanya bisa tersenyum malu. Ia duduk di pojok sambil mengipasi lidahnya sendiri dengan koran bekas.
Bu Ijah mendekat. "Lain kali kalau mau bikin sambal, tanya dulu berapa orang yang akan datang."
Pak Darsa mengangguk. "Iya. Tapi, setidaknya hari ini semua orang kenyang—dan kenyang tertawa."
Comments
Post a Comment